Rabu, 08 September 2010

Memberi maaf tanpa diminta

"Tujuh turunan saya tidak akan memaafkan dia!" demikian penggalan dialog sebuah film yang mengisahkan seorang perempuan yang dikhianati oleh kekasihnya karena menikah dengan orang lain. Barangkali dalam kehidupan nyata yang kita alami, mungkin saja kita pernah dongkol atau marah berat dengan seseorang. Disadari atau tidak, terkadang ada rasa "telah merasa jadi korban" sehingga kita merasa sebal dan menuntut permohonan maaf, bahkan jika perlu kita berharap bahwa orang yang telah menyakiti kita menjadi menderita dan mengalami musibah. Banyak dari kita yang merasa nyaman, setelah melihat si dia, yang menyakiti kita hidup susah dan menderita. Kita puas dan bersuka cita. Tapi ingatlah, yang seperti ini bukanlah akhlaq seorang Muslim. Ini adalah godaan iblis yang dengan sangat halus menanamkan rasa dengki dan dendam di hati. Cirinya adalah, ketika ada kesusahan orang, kita senang, bahkan mendoakan agar dia selalu susah sepanjang hidup dan kita juga melihatnya. Rasulullah Saw mengajarkan umatnya untuk mudah memaafkan kesalahan siapapun, secepat mungkin. Dengan memaafkan, kita telah melepaskan diri dari beban berat perasaan tertekan. Dengan memaafkan pula, kita telah bersikap pasrah dan ikhlas atas ketentuan Allah Swt. Ingatlah bahwa tidak ada sesuatupun terjadi kecuali atas izin Allah Swt. "Wa maa romaita, idz romaita walakinallaha roma" (tidak ada sebuah panah pun mengenai sasaran, melainkan Allah yang mengantarkan mata panah itu). Jika hal sepele seperti orang memanah dan kena sasaran, dikatakan sebagai takdir Allah, apalagi urusan dengan hati. Maka serahkan semuanya pada Allah. Tidak perlu berdoa buruk atas orang lain yang kita nilai pernah menyakiti hati. Biarkan, dan yakini bahwa Allah Swt lebih tahu yang terbaik buatnya. Kecuali, orang itu hendak merampok, mengancam jiwa kita, maka wajib hukumnya dilawan sampai titik darah penghabisan. Namun jika hanya terluka karena sikap atau kata-kata selintasan, rasanya tidak akan berkurang jika kita memaafkan saja. Tidak perlu menunggu si dia datang menghampiri, bahkan jika sampai dia mati pun tidak sempat meminta maaf, ikhlaskan saja dan Allah Swt akan menentramkan hati kita dengan kuasaNya. Wallahu a'lam. *)Ahmad Juwaini adalah Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa