Prof. Dr. H. Imam Suprayogo
Dalam sebuah pengajian sederhana, seorang pembicara menjelaskan tentang derajad yang disandang oleh setiap orang. Pengajian itu disebut sederhana karena hanya diikuti oleh beberapa orang, dilakukan sebagai kegiatan rutin dan mengambil tempat di sebuah mushalla kecil. Tema pengajian rutin tersebut selalu disesuaikan dengan hal-hal aktual terkait dengan kehidupan sehari-hari.
Pengajian saat itu membicarakan tentang letak derajatd seseorang. Dijelaskan bahwa setiap orang menginginkan agar diangkat dan atau diakui derajadnya. Seseorang yang derajad tinggi biasanya mendapatkan tempat khusus, namanya disebut-sebut, selalu dihormati dengan berbagai cara, misalnya nasehatnya didengarkan, petunjuknya diikuti, dan lain-lain. Di setiap masyarakat selalu ada orang yang dianggap memiliki derajad yang tinggi itu. Sedangkan ukuran untuk menentukan derajad itu juga berbeda-beda bagi kelompok satu dengan kelompok masyarakat lainnya.
Dalam pengajian itu dijelaskan tentang ketinggian derajad menurut pandangan Islam. Islam menganggap bahwa antar orang memiliki derajad yang berbeda-beda. Namun Islam memiliki ukuran-ukuran tersendiri dalam menentukannya. Ketinggian derajad seseorang diukur dari kadar ketaqwaannya. Seorang yang beriman, berilmu, beramal shaleh dan berakhlak mulia adalah adalah penyandang derajad mulia, menurut Islam.
Namun bagi kebanyakan orang keliru menangkap ukuran itu. Mereka mengira bahwa derajad itu di antaranya terletak pada jumlah harta dan kekuasaan. Mereka yang kaya dan berkuasa itulah yang lebih dihormati dan diistimewakan. Oleh karena itu, maka seseorang dalam mengejar kedua hal tersebut melakukan berbagai cara dan resiko apapun. Bahkan demi mendapatkan harta dan kekuasaan, seseorang melakukan penyimpangan atau hal-hal yang sebenarnya tidak patut dilakukan.
Seseorang menganggap dirinya sukses manakala telah disebut sebagai orang kaya dan berkuasa. Maka sehari-hari kegiatannya adalah hal yang terkait dengan harta dan atau urusan politik. Bahkan demi keberhasilan itu, mereka berani menanggung resiko apapun. Para koruptor dan juga petualang politik melakukan apa saja demi harta dan kekuasaannya itu, hingga akhirnya tatkala kesalahannya diketahui, maka ditangkap, diadili dan masuk ke penjara.
Kepuasaan terhadap harta dan kekuasaan, bagi kebanyakan orang, tidak ada batasnya. Seberapapun kekayaan yang berhasil dikuasai, dan setinggi apapun kekuasaan yang diraih, maka tidak akan mengantarkan seseorang berpuas diri. Terkait dengan jumlah harta yang dimiliki, seseorang tidak pernah puas. Sebab ternyata selalu ada orang lain yang melampaui. Mengejar harta dan kekuasaan sama dengan berlomba lari tanpa ada garis finis. Mereka harus lari sepanjang hidupnya. Mereka baru mau berhenti, tatkala sudah mati.
Dalam pengajian sederhana itu, oleh pembicara banyak diberikan contoh-contoh konkrit tentang kehidupan manusia pada umumnya. Misalnya, seseorang dengan biaya berapapun, membangun rumah mewah, membeli pakaian terbagus dengan harga paling mahal, shopping tidak di sembarang tempat, yang semua itu dilakukan agar disebut sebagai orang kaya. Mereka seolah-olah menganggap bahwa derajadnya itu terletak pada rumah, pakaian dan tempat shopping itu. Mereka lupa bahwa, sebenarnya derajad itu, -----kalau memang maksudnya adalah mengejar derajad, maka derajad itu justru berada pada kualitas dirinya sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, memang banyak orang lebih menghormati harta atau kekuasaan dari pada dirinya sendiri. Harta dan kekuasaan dianggap segala-galanya. Padahal semestinya, derajad atau kualitas seseorang tidak hanya dilihat dari sebatas harta yang berhasil dikuasai atau kekuasaan yang dimiliki, melainkan terletak pada keimanan, ilmu, amal shaleh dan akhlak mereka. Wallahu a’lam.